Kamis, 27 Januari 2011

30 meter

dari kursi empuk
dari dinginya udara buatan
dari kencangnya denyut jantung yang dibuat ngos-ngosan
ku langkahkan kaki kiriku keluar
disusul kaki sebelahnya dengan sedikit tergesa-gesa
khawatir harta dunia itu
tidak lagi ditempatnya
lalu kuberikan 2 lembar uang itu
hasilku menawar sebelumnya
lumayan aku berhasil menyelamatkan sang legenda,
pak tuanku imam bonjol agar tidak keluar dari tempatnya
memang, seperti ketagihan aku menaikinya

kukencangkan tas merah buduk itu
agar sejajar dengan kepalaku
'klek' dibagian pinggang dan dada
satu langkah dua langkah
terasa sama
tiga langkah empat langkah
hingga tujuh langkah
masih terasa biasa
hingga bertemu ku dengan gerombolan orang
yang dengan motornya bisa mendapatkan upah
yang terlihat sedang bersilat lidah
kulemparkan senyumku kehadapan mereka
ku anggukkan kepalaku layaknya burung gereja
bukan apa apa, hanya gerakan reflek semata
beberapa detik mereka melihatku
beberapa detik pula mereka kembali tidak melihatku
yaa sudahlah
mungkin mereka memang sedang sibuk dengan urusan mereka
atau memang 'setting-an' mereka yang sudah seperti itu,
biarkan saja

kulanjutkan langkah-langkah kakiku
hingga berjumlah puluhan kemungkinan.

dan udara pun seakan mulai berubah
langit yang ungu kekuningan
ditambah terpaan angin yang tak kencang juga pelan
menyempurnakan keadaan
seolah memang menyambutku datang

kucoba lihat jam di telepon genggam kesayangan
ohya aku lupa
ia sudah tidak berguna sejak diperjalanan
kulanjutkan lagi berjalan
terus menikmati sesuatu yang lama tak kurasakan

lengkap sudah.
suara lantunan firma-firman sang Pencipta
terdengar indah
hingga ku tak inign lagi berkata-kata
hanya ingin mendengarkanya

kulihat di kanan
ada bangunan bundar yang terbuat dari batuan
mengingatkanku pada saat jaman-nya latihan
hahaha
ada seonggok motor oranye disana
bersama beberapa motor lainya
aku tahu jelas motor itu
plontos kepala orang yang memilikinya
kak yeri namanya
dialah yang menjadi pelatih
yang menjadikan timnya mengangkat piala
SMA 9 kalau tak salah nama timnya

dengan senyuman yang tertahan
kulanjutkan kaki ini berjalan
papan 'awas anjing galak' kulihat
yang dulu sempat menghantui ku beserta kerabat
ah sayang
bangunan telah berubah
dan makhluk itu telah hilang
namun sepertinya bukanlah sebuah berita baik disini
karena anak-anak telah sibuk dikamarnya sendiri

perempatan belok kiri
satu dua
yak tiga rumah
ada tempat yang telah lama kutempati
eh
tapi sekarang sepertinya berbeda
ohh pohon mangga aneh itu telah tiada
pasti telah ditebang oleh pemilik rumahnya
dan perjalanan 30 meter ini pun sungguh tak terasa

2 komentar:

 
Design by Muhammad Dimas Rahman Affandi | Bloggerized by campredodellaconcetta - samid namhar - @midsamid | Lampung-Jogjakarta-Indonesia