Minggu, 17 Mei 2015

Yogyakarta Coin a Chance: Mari berbagi!




“Ada nih, di komunitas ini kamu bisa punya kesempatan buat punya adek, jadi kakak pendamping namanya..”

Kira-kira seperti itu isi pesan singkat yang baru saja masuk,
Pesan dari seorang teman yang sudah lebih dulu gabung ke dalam komunitas tersebut.

Menarik. Menarik sekali info tersebut. Sesuai sekali dengan salah satu keinginan saya yang ingin memiliki adik kecil, salah satu keinginan yang bisa jadi dimiliki oleh hampir seluruh anak bungsu di dunia ini. Salah satu keinginan untuk bisa membantu. Sebelumnya, saya, berdua bersama teman-satu-usaha, juga pernah memiliki “adik-bersama”, namun sepertinya punya sendiri lebih asik. Tanpa banyak menimbang, saya mengambil kesempatan ini. Lokasi pertemuan: Kedai Alpukat, Jakal (Jalan Kaliurang, Jogjakarta).

Terlambat, namun tetap saja disambut dengan hangat. Saat itu pertama kali saya melihat langsung aktivitas yang masih terasa lazim bagi saya, menghitung koin. Oh Ibu, apa yang mereka lakukan? Dalam hati bertanya. Mas Agung adalah orang yang pertama kali saya kenal, setelah teman saya tentunya, yang saat itu kebetulan tidak dapat hadir. Setelah perkenalan sekenanya, berbincang sedikit dengan beberapa orang di sana, saya langsung dihadapkan oleh sang koordinator pendamping saat itu, Mba Fabi. Saat itu juga, saya akan diberikan tanggung jawab adik asuh, namun nampaknya Mba Fabi masih cukup bingung untuk memilihkannya. Tiada lain, kuasa-nya lah yang telah mengatur ini semua, hingga semesta menyetujuinya. “Kamu bakal gantiin Mas Ardi sebagai kakak pendampingnya Dek Alif, jadi nanti kamu koordinasiin lagi aja sama dia ya”.

Yak, nama itu sudah terucap, merambat melalui udara, masuk melalui lubang telinga, lalu diperbesar oleh gendangnya, untuk selanjutnya diproses ke dalam otak saya. Alif. “Anaknya baik, pinter kok”, tambah Mba Fabi untuk meyakinkan saya yang mungkin tampak ragu kala itu. Banyak pertanyaan saya lontarkan mengenai komunitas ini dan jobdesk sebagai kakak pendamping. Belum tuntas kebingunganku, acara telah selesai. Giliran sekarang acara bebas. Pecah sudah. Kalian pernah lihat orang bermain pingpong? Nah, itu saja yang dibayangkan, persis sekali, silih berganti, namun bola kau ibaratkan tawa. Jelas nampak gembira sekali rona wajah mereka semua. Kesan pertama: Asik.

Sepulang dari pertemuan tersebut, sebenarnya masih ada yang tak sesuai dengan ekspektasi saya, khususnya untuk kegiatan yang dilakukan. Pertama, ngumpul-untuk-ngitung-koin atau yang biasa orang bule bilang, coin dropping, itu hanya dilakukan sebulan sekali. Wah, menurut saya ini tergolong lama. Mungkin karena saya terbiasa di lingkungan kampus yang kegiatannya dilakukan seminggu sekali, atau bahkan kurang dari itu. Kedua, mengenai adik asuh. Saya bingung, jadi tugas kakak pendamping “cuman” mengawasi seperti itu? Tak ada kegiatan lain seperti misalnya dalam bayangan saya, berkelompok membuat sebuah kelas untuk mengajar? Tidak ada? Wah, yasudalah, saya coba dulu jalani komunitas “tidak biasa” ini. Hal yang dilakukan pertama: Menghubungi Mas Ardi.

Seminggu berlalu, dua minggu berlalu, masih belum ada yang dapat saya lakukan. Karena kebetulan Mas Ardi belum punya waktu untuk menemani saya menuju rumah sang adik asuh yang sebenarnya sudah saya lihat raganya melalui poster yang terpampang jelas di dinding basecamp. Ternyata minggu ketiga. Mas Ardi dahulu yang menawari saya kali ini. Oke, hari telah disepakati, deal. Harinya pun tiba. Saya siapkan kaos klub sepakbola kebanggaan, lalu berangkatlah saya menuju jalan yang dahulu sepertinya pernah saya tempuh saat menuju Pantai Depok. Jalan Bantul. Setelah berpapasan di jalan, kami menuju rumah Dek Alif. “Dekat sini mas?”, tanyaku. “Masih lumayan dim”, jawabnya cepat. Benar saja, puluhan rumah terlewat, telah banyak hamparan sawah dilalui, belum ada tanda-tanda Mas Ardi ingin berbelok. Hingga Mas Ardi menunjuk sebuah tempat pengisian bahan bakar, tak lama dari itu, tepat di samping sebuah toko klontong, kita berbelok. Gang kecil, jalanan yang tak rata, sepeda yang lalu lalang, anak-anak yang asyik berlarian, beberapa Ibu yang sedang bercengkrama di pinggiran jalan, ah damai sekali, menenangkan sekali. Kami ditunjukkan oleh Yanti, yang juga adik asuh, jalan menuju rumah Dek Alif. Sepedanya terhenti, sambil menunjuk ke arah sebuah rumah. Isi perasaan saya: Campur aduk.

Tanpa semen, tanpa cat, berpagar bambu, kami masuk ke dalam rumah melewati sebuah pohon mangga muda dan sebuah kandang ayam yang berpenghuni. Belum sampai ke teras rumah, seorang bocah berbaju putih keluar dari rumah, menemui kami. Oh, salah, menemui Mas Ardi, menyalaminya. Akhirnya, untuk kali pertama saya melihatnya secara langsung. Tak lama, Ibunya pun keluar menemui kami. Senyum terlempar jelas dari wajahnya menyambut kedatangan kami. Oh, salah lagi, kedatangan Mas Ardi, karena sewaktu itu saya belum memperkenalkan diri. Setelah kami masuk, barulah Mas Ardi memberitahu bahwa saya akan menjadi penggantinya dalam menjadi kakak pendamping. Bertanya-tanya sedikit kepada Ibu dan Dek Alif, perkenalan singkat dan foto bersama yang menandakan saya sah menggantikan Mas Ardi menjadi kakak pendamping Anak cowo senang olahraga dan main gitar ini, Dek Alif!
Hari-hari berlalu, “pendekatan” saya kepada Dek Alif berjalan lancar. Saya ajak main bola di dekat rumahnya, saya ajak main gitar bareng, saya ajak main ke tempat-tempat seru. Ternyata dibalik pendiamnya, Dek Alif juga punya selera humor kalau kita sudah kenal. Suka ngelawak dan suka nyeplos. Kalau sudah begini, saya coba mulai masuk ke masalah pelajaran. Matematika dan IPA, hanya dua mata pelajaran itu yang kami diskusikan. Ngerjain soal di buku LKS atau sekedar ngerjain PR nya. Pintar alias cepat nangkap, tapi susah buat fokus. Mungkin karena masih kelas 4 SD. Aktifitas seperti itu berjalan rutin hampir setiap minggu. Terkadang saya hanya menjumpai Ibu atau Bapaknya untuk sekedar ngobrol tentang Dek Alif. Dek Alif pernah masuk berita di koran, pernah ikut mewakili sekolahnya turnamen sepakbola, dan yang paling teringat, Dek Alif pernah membelikan Ibunya mesin jahit dari hasil uang jajan dan uang beasiswanya. Anak sekecil itu dalam segala keterbatasannya, sudah berpikiran sedemikian hebat. Salut! Rasa kesederhanaan, tak pernah pernah mengeluh, selalu ceria dan kasih sayangnya pada kedua orangtua, sebagai kakak pendamping Dek Alif, rasanya justru saya yang lebih banyak “diajari”.
 
“Coin a Chance!” adalah nama komunitas yang keren ini. Komunitas “Coin a Chance!” telah tersebar di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan masih banyak lagi. Sesuai dengan namanya, komunitas “Coin a Chance” adalah komunitas yang berhubungan dengan koin dan kesempatan. Koin sebagai perantara dan kesempatan buat adik-adik kurang mampu untuk mecapai mimpi sebagai tujuannya. Koin? Adik kurang mampu? Apa sih?

Tanpa kita sadari, masih banyak di luaran sana anak-anak yang tak mampu melanjutkan sekolahnya. Bukan karena tidak lulus, melainkan karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Memang ada program pemerintah untuk itu, tapi kenyataanya, tak semua anak-anak tersebut bisa mendapatkan kesempatan itu. Kesempatan apa? Kesempatan untuk berhak mendapatkan pendidikan seperti yang tercantun dalam undang-undang, kesempatan untuk dapat mewujudkan mimpinya agar kelak bisa merubah kehidupan keluarganya. Berlandaskan hal ini, Coin a Chance! Mecoba menghidupkan kembali kesempatan itu, melalui koin. Kenapa koin? Bukannya nilainya kecil?


Mungkin bagi sebagian orang, koin masih dianggap remeh, koin masih dianggap sebelah mata, tak ada harganya. Lihat saja, di sebagian toko-toko klontong, uang kembalian berupa uang koin ditukar dengan permen. Bahkan mungkin kita mengalami sendiri, koin kita simpan hanya untuk berjaga-jaga apabila ada pengamen beserta kawan-kawannya. Padahal bila “uang-uang tak berharga” itu dikumpulkan, koin-koin tersebut dapat melanjutkan mimpi sebagian anak-anak yang kurang mampu. Selain karena sifatnya yang “remeh”, ada satu hal mendasar lain yang menjadikan koin sebagai perantaranya, yaitu: karena koin itu mudah. Mudah dalam arti, hampir semua orang, semua kalangan bisa berkontribusi. Tak perlu banyak-banyak, tak perlu pusing-pusing, hanya dengan koin bahkan seorang anak SD yang menabungkan sebagian uang jajannya dalam sebuah celengan juga bisa ikut membantu temannya yang kurang beruntung. Hanya dengan memasukkan uang koinnya ke dalam celengan yang tersedia di beberapa sudut keramaian, mereka sudah berkontribusi mewujudkan mimpi sebagian jiwa di sana. Benar-benar semua kalangan, baik tua-muda, besar-kecil, hingga yang hidup pas-pas-an pun dapat ikut merasakan indahnya membantu. Receh gak remeh!

Antara koin dan kesempatan, dibutuhkan sebuah alat yang bernama, celengan. Celengan ini kemudian ditaruh di tempat-tempat yang strategis, di tempat-tempat keramaian, di tempat-tempat berlangsungnya transaksi jual-beli seperti di kasir. Dengan bentuk celengan yang khas dan sebuah banner kecil, dilengkapi sedikit sosialisasi kepada teller, pengunjung sudah dapat menjadi donator dengan  menyisihkan uang koinnya, dan memasukkannya sendiri ke dalam celengan tersebut. Dan setiap akhir bulan, atau setiap ada alporan bahwa celengan sudah penuh, maka para volunteer CAC (Coin a Chance!) akan mengambil celengan tersebut. Celengan-celengan yang sudah terkumpul tadi, pada satu hari di setiap bulannya akan sama-sama dihitung oleh para volunteer, atau biasa disebut dengan Coin Collecting Day (CCD). Koin-koin yang telah terhitung tadi selanjutnya ditukarkan dengan uang kertas agar tidak repot (bener kan, koin hanya perantara saja). Dalam enam bulan sampai satu tahun sekali, uang yang terkumpul dijadikan satu, lalu disalurkan oleh para volunteer ke sekolah-sekolah tempat adik asuh menimba ilmu, atau biasa disebut dengan Coin Dropping. Tak hanya dari koin, CAC juga membuka bagi siapa saja, baik individu ataupun perusahaan, para donatur yang ingin menyisihkan hartanya untuk adik-adik asuh. Adik asuh? Siapa itu?

Adik asuh merupakan anak-anak yang berprestasi namun kurang beruntung karena terhimpit permasalahan ekonomi hingga kesulitan untuk melanjutkan sekolah. Berprestasi di sini tidak melulu harus pintar. Anak yang berprestasi di sini ialah anak yang gigih dan memiliki kesungguhan untuk mau belajar guna mewujudkan mimpinya. Atau disingkat: anak yang bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh juga tidak hanya dalam akademik, tapi juga non-akademik. Hobi yang mengantarkan mereka meraih juara. Tentu adik asuh perlu diseleksi. Bisa diambil dari info teman-teman, warga sekitar, atau datang langsung ke sekolah-sekolah. Seleksinya tidak rumit, asalkan mereka kurang mampu dan mau belajar, sudah bisa menjadi adik asuh CAC.

Setiap adik asuh memiliki satu kakak pendamping. Tugas kakak pendamping itu ada empat: Sebagai motivator, sebagai penghubung, sebagai contoh dan sebagai kado. Sebagai penghubung maksudnya antara anak dan orang tua, antara orang tua dan komunitas, dan antara komunitas dengan adik asuhnya. Sebagai kado maksudnya agar adik asuh merasa bahwa kakak pendampingnya merupakan kado untuknya. Keempat hal yang tidak mudah tentunya. Tapi seperti itu lah memang tugas kakak pendamping, setiap volunteer pasti memiliki tugasnya masing-masing.

Lalu apa saja kegiatan CAC? Apa hanya naruh celengan-ngitung koin-kasih ke sekolah-taruh celengan lagi- begitu seterusnya? Big no! Banyak event seru yang pada intinya ditujukan untuk adik asuh. Berikut ini event-event nya:

Internal
1.       Coin Collecting Day (CCD): Acara ngitung koin bareng di tempat-tempat yang berbeda (setiap bulan) 
2.       Coin dropping: Menyalurkan hasil dari CCD ke sekolahan adik asuh (1-2 kali setahun) 
3.       Voluntary Building: Penyegaran dan pembekalan para volunteer untuk meluruskan tujuan (1 tahun sekali) 
4.      Open Recruitment: Call up siapapun yang ingin jadi volunteer (1-2 tahun sekali)

Eksternal
1.       Penggalangan koin: gabung dengan komunitas lain membuat acara, mengumpulkan koin 
2.       Booth CAC: Buat stand di acara forum komunitas untuk mengenalkan CAC 
3.       Mengikuti undangan acara komunitas lain

Adik Asuh
1.       Piknik koin: Jalan-jalan ke tempat yang edukatif (1-2 kali setahun) 
2.       Kelas mimpi: Mengajak adik asuh mengenali mimpi mereka (1-2 kali setahun) 
3.       Kelas karya: Mengajak adik asuh berkarya (1-2 kali setahun) 
4.       CAC goes to school: Mengenalkan CAC ke sekolah-sekolah (1-2 kali setahun) 
5.       CAC Anniversary: Perayaan ulang tahun CAC bareng adik asuh (1 tahun sekali)

Lumayan banyak kan acara yang dibuat para volunteer CAC? Ohya, volunteer ya, bukan anggota. Karena keduanya berbeda. Di CAC, setiap orang yang menjadi volunteer tidak memiliki ikatan sebagai anggota. Artinya, tidak ada suatu hal administratif yang mengikat di sana, kecuali mengikat secara perasaan ataupun tanggung jawab. Di CAC juga tidak ada ada satu ketua yang pasti, yang ada hanya koordinator yang selalu berganti dan beberapa penasihat atau “sesepuh” yang telah punya banyak pengalaman lebih dulu di CAC. Jadi, komunitas CAC tidak pernah memaksa menguras waktumu, yang ada hanya waktumu yang akan tersita oleh kebahagiaanmu. Karena memang pada dasarnya volunteering merupakan panggilan hati, bukanlah sebuah paksaan.

Kini, saya tidak lagi menjadi volunteer sebagai kakak pendamping di CACjogja. Sejak lulus dan pindah kerja ke Jakarta, persis tidak ada lagi tatap muka dengan Dek Alif. Komunikasi hanya sebatas melalui SMS dan telfon. Sekedar bertanya kabar, sekedar bertanya kegiatan. Beberapa kali datang ke Jogja setelahnya, juga tidak sempat ke rumahnya. Oh, salah, juga tidak menyempatkan waktu datang ke rumah Dek Alif. Sempat sekali ikut CCD setelah pindah ke Jakarta, itu pun hanya sebentar. Terakhir kali pamit dengan Dek Alif ialah pada saat acara pengumuman kelulusannya. Persis H-2 sebelum keberangkatan saya ke Jakarta. Dek Alif dengan baju khas Jogjakartanya pada saat itu tampil ke atas panggung sebagai salah satu peraih Nilai tertinggi. Pada saat itu saya benar-benar terharu, tak terasa saya sekat air di pelipis mata. Malu kalau sampai ketahuan menangis, karena Ibunya saja tidak nangis. Dek Alif didampingi Ibunya di atas panggung, disalami oleh kepala sekolah. Saya sibuk mengabadikan lewat kamera bersama Om Nono dan Mbak Yanti yang juga hadir pada hari itu. Selain naik panggung karena nilai, yang kerennya, Dek Alif juga naik ke panggung buat tampil bersama Band-nya. Keren! Dek Alif dan gitarnya tampil di atas panggung dengan gayanya yang khas, malu-malu tapi seru. Benar-benar bahagia hari itu. Di penghujung acara, saya berpamitan kepada Dek Alif dan Orangtuanya, sambil foto bersama. Tak ada pesan yang ku sampaikan, hanya ucapan standar, “Belajar yang rajin ya Lif! Bikin bangga orangutamu!”. Ohya, di hari itu saya juga pamit kepada Om Nono dan Mba Yanti, menitipkan salam kepada teman-teman volunteer CAC yang lain. Saya tidak sempat berpamitan langsung. Panggilan kerja saat itu benar-benar mepet. Tapi tak apa, memori akan Dek Alif dan CAC gak akan pernah kelupa, kok, yakin.

Tak beberapa lama di Jakarta, saya pindah kerja dan saat ini menetap di Sumatera Utara. Sempat mencari info mengenai CAC di Medan, tapi nihil. Ah, kangen berkomunitas seperti di CAC. Bertemu teman-teman baru, belajar banyak dari mereka, belajar dari adik asuh, benar-benar membahagiakan. Sebenarnya sejak awal bergabung dengan komunitas ini, saya berhayal dan bermimpi kalau suatu saat, CAC bukan lagi menjadi komunitas, lantaran menjadi budaya. Budaya yang di support oleh pemerintah daerah (bukan dijalankan oleh pemerintah). Budaya apa? Ya Budaya Koin. Seperti muncul mindset di setiap kalangan masyarakat di Indonesia kalau ketemu uang koin, ya ingat CAC. Setiap sudut kota, restoran, tempat perbelanjaan, di setiap tempat yang menyediakan transaksi jual-beli, bahkan di taman-taman kota, ada celengan! Bentuk celengan nanti beragam sesuai dimana ditempatkan. Ada celengan seperti biasa, ada juga celengan berbentuk unik seperti sekolahan, celengan berbentuk balon udara, bahkan celengan bulat besar yang di tempatkan di taman kota dan masih banyak lagi bentuk celengan unik dari designer arsitektur ternama yang juga ikut ambil bagian di CAC. Semakin banyak celengan di tempatkan, maka mindset “ingat koin, ingat CAC” akan semakin terbentuk. Trus, kalau sudah banyak celengan, gimana? Nantinya akan ada truk pengumpul koin (semacam truk sampah). Setiap minggu ia berkeliling kota, menghampiri titik-titik celengan (titik koin). Selain truk koin, tiap kota akan ada juga rumah koin, tempat pengumpulan koin apabila tidak jumpa truk koin. Selain kedua itu, para volunteer juga tetap memantau setiap titik koin yang bisa diakses melalui aplikasi handphone, titik koin mana yang belum di ambil. Setelah pengumpulan koin berjalan mulus, selanjutnya konversi koin. Karena jumlahnya yang cukup banyak, koin tidak lagi dihitung, tapi sudah di setor langsung di bank, baik dari truk koin, rumah koin, atau para volunteer. Di sini diharapkan kerjasama bagi setiap bank, untuk memudahkan CAC dalam menyetor koin dan menyediakan rekening khusus CAC. Dari bank, tugas para volunteer CAC untuk menyetorkan dan meng-update nomor-nomor rekening sekolah para dik asuh yang dituju, sehingga setiap 6 bulan, bank bisa langsung mentransfer. Kalau sudah besar begitu, adik asuh akan semakin banyak, sehingga dibutuhkan pula volunteer yang banyak untuk mengkoordinir event-event penunjang untuk adik asuh CAC. Tapi saya rasa, setiap kota pasti ada orang-orang yang mau menyisihkan waktunya untuk mewujudkan kebahagiaan. Peran pemerintah daerah ialah dengan men-support celengan, truk koin serta rumah koin. Penanggung-jawabnya tetap berada di bawah departemen sosial daerah, tapi yang menjalankan tetap para volunteer. Memang kejujuran jadi modal utama, tapi saya yakin bila hal ini sudah membudaya, pekerjaan mulia ini tidak akan dinodai, bahkan untuk sekedar terfikirkan sekalipun. Yah, memang ini hanya angan-angan yang tentu masih banyak penyempurnaan, tapi apa salahnya berangan-angan akan hal baik, kan?

Mungkin demikian point-of-view saya tentang komunitas Coin a Chance. Terimakasih teman-teman CACjogja udah ngasih pembelajaran dan kesempatan jadi kakak pendamping di kala itu. Mohon maaf kalau ada salah, maaf cuman bisa ditulis dan baru sekarang :)

Dan buat kamu, pelajar atau mahasiswa atau wirausaha atau siapapun anda, khususnya di Jogjakarta, Semarang, Jakarta dan daerah lain yang ada CAC-nya, ayo gabung komunitas Coin a Chance! Selain banyak manfaat, mana tahu bisa ketemu gebetannya! Receh gak remeh, mari berbagi! :)

Coin Collecting Day


Coin Dropping
Voluntary Building
CAC Goes to School
Kelas Mimpi
Kelas Karya
 
Piknik Koin


CAC Anniversary

Salam Koin!


Sabtu, 09 Mei 2015

Don't grow up, it's a trap!



Ku tundukkan kepala melihat lantai coklat yang mulai mengering. Beberapa menit yang lalu, petugas khusus kebersihan yang disediakan oleh pihak kereta api baru saja selesai membersihkan lantai yang biasanya nampak kotor dan tidak terawat. Saat ini pengelolaan kereta api sudah lebih baik, setidaknya sudah ada petugas kebersihan yang benar-benar membersihkan lantai.

Beberapa bercak dan aliran air yang mengalir dari dekat pintu kereta mengambil perhatianku. Mereka mengalir menyusuri lantai yang dirasa lebih rendah, mendekat ke arah kakiku. Semakin lama semakin banyak, semakin lama hujan semakin deras. Suara butiran air yang menghantam kaca jendela diselingi dengan sesekali gemuruh petir membuat harmonisasi yang pas untuk membuatku mengingat beberapa hal yang menggangguku belakangan ini.

Aku senang memperhatikan sekitar. Aku senang memperhatikan orang-orang di sekitar untuk setelahnya mencoba mengambil kesimpulan yang kubuat sendiri semauku. Dan bila itu memungkinkan, tidak jarang aku memulai pembicaraan. Senang rasanya bisa berbincang dengan sesorang yang baru, karena pasti ada saja hal baru yang bisa ku ketahui. Tapi mungkin kali ini lain, saya hanya memperhatikan sekitar sambil bertanya-tanya kepada diri sendiri.
            Di hadapanku terdapat sepasang anak muda. Sepertinya mereka telah memiliki hubungan khusus, minimal pendekatan. Tapi kesimpulanku mengatakan bahwa mereka berpacaran. Mungkin masih baru, karena masih agak malu-malu. Di sebelah mereka ada seorang perempuan. Baru saja naik dari stasiun sebuah universitas ternama di Indonesia. Sepatu kets, celana jeans, dan tas ransel sudah cukup bagiku untuk menebak. Ditambah lagi headset putih yang Ia gunakan sejak memasuki kereta yang belom sempat Ia lepas hingga Ia mendapat tempat duduk. Santai sekali. Jurusan Sastra atau bahkan Teknik tebakanku. Ia benar-benar menikmati musik yang disumbat di telinganya, mendengarkannya sambil menutup mata. Mungkin itu lagu kesukaanya, atau lebih tepatnya lagu yang mampu mengingatkannya kembali akan memori-memori senangnya dahulu. Wah lihat! Ada seorang anak laki-laki berlari mendekati pintu, menginjak-injak genangan air. Sepertinya Ia senang melihat itu. Ibunya? Tidak terlalu merisaukan, tapi tak pernah lolos mengawasi. Oke, saya sependapat. Mereka tak melulu harus dilarang. Oh, kereta berguncang sedikit, anak kecil itu spontan menapakkan kakinya ke belakang untuk menjaga keseimbangan, lalu lari menuju Ibunya. Pelukan anak kecil itu memegang erat kedua kaki sang Ibu. Kepalanya Ia tenggelamkan, diusap-usapkan ke bagian paha. Gayung bersambut, kepala anak kecil itu pun mendapat usapan dari Bundanya. Manis sekali. Senang melihatnya.
             “Don’t grow up, it’s a trap” mungkin ada benarnya.  Kalau saja anak kecil tadi bukanlah anak kecil lagi, mungkin lain yang akan dilakukan. Pura-pura tidak ada apa-apa, menengok ke kanan-kiri, stay cool seolah tenang, padahal kaget karena mau jatuh terjungkal. Semua yang dilakukan hanya pura-pura agar tetap terlihat bagus, agar tetap terlihat normal. Rumit. Anak kecil tadi hanya melakukan apa yang Ia ingin lakukan. Saat takut, Ia mencoba mencari perlindungan yang terbentuk dalam sosok Ibunya. Saat rasa ingin tahunya muncul, Ia dekati genangan air yang mengalir di dekat pintu. Tanpa ada rasa ini rasa itu, tanpa memperdulikan apa kata orang. Sederhana.

Keinginan dan kebutuhan. Semakin bertambah usia, semakin bertambah keinginan serta kebutuhan yang terkadang terangkum jadi satu dalam sebuah kepentingan. Kedua hal yang seharusnya terpisah, namun kebanyakan tercampur-aduk akibat tidak ada keteguhan prinsip yang kuat. Hal yang sebenarnya keinginan menjadi sebuah kebutuhan, sedangkan hal yang benar-benar sebuah kebutuhan itu sendiri menjadi tersingkirkan.

Keinginan dan kebutuhan tidak hanya berbentuk materi. Keinginan untuk dihargai, keinginan untuk dipuji, keinginan untuk dicintai, keinginan untuk menjadi perhatian, dan berbagai macam bentuk keinginan yang lain. Manusiawi memang, tapi tentu punya batasan. Karena pada dasarnya setiap manusia dari lahir udah diciptain rasa ingin dihargai, rasa benci, dongkol, sayang, kasih dan lain sebagainya. Yang membedakan cuman gimana mengeluarkannya. Ada yang bisa nahan, ada yang pelan-pelan, ada yang spontan, ada juga yang diam-diam dan masih banyak lagi. Jadi semua kembali ke diri kita sendiri.

Akibat keinginan dan kebutuhan yang tercampur-aduk dan tidak dapat dikendalikan, muncul-lah sebuah kepentingan. Kalau sudah berbau kepentingan, air laut yang tadinya asin bisa saja menjadi manis, bahkan semanis artis pemeran film 500 Days of Summer. Kalau sudah berbau kepentingan, bau bokong  pun bisa saja menjadi harum, bahkan seharum parfum yang dipakai Mar dari Paris. Begitu juga sebaliknya. Hah!

Keinginan juga gak melulu negatif. Keinginan positif juga bisa buat yang sederhana menjadi rumit. Keinginan untuk menjaga perasaan orang lain, keinginan untuk memberi, keinginan untuk menolong, dan keinginan positif yang lainnya. Hingga melakukan hal positif pun bahkan menjadi rumit. Tidak seperti anak kecil yang memang tulus bila ingin melakukan sesuatu, bagi orang dewasa bisa saja hal positif menjadi sebuah kepentingan. Mengerikan. Kebutuhan untuk memenuhi ketenagan jiwa dengan melakukan hal positif menjadi pudar akibat kepentingan.

Apresiasi justru kepada mereka yang dibilang “polos” atau “lugu”. Karena mereka tidak banyak memikirkan ini-itu. Mereka hanya melakukan apa yang menurut mereka baik demi memenuhi kebutuhan mereka. Tidak seperti orang dewasa yang terlalu banyak memikirkan ini-itu. Keren menjadi anak kecil, tapi bukan berarti kekanak-kanakan.

Lama melamun, aku lupa dimana nanti aku berhenti. Bertanya kepada penumpang di samping, ternyata tujuan kami sama, persis satu stasiun di depan. Alhamdulillah, tidak terlewat seperti dulu pernah tertidur. Kuucapkan terimakasih lalu kupersiapkan barang bawaanku. Satu tas ransel, satu tas jinjing di tangan kiri, dan dua kardus ukuran sedang di tangan kanan, saya sudah tak sabar ingin merasakan “rumah”. I’m coming!



20 Maret 2015

Dalam perjalanan kereta listrik dari stasiun Bogor menuju stasiun Juanda




Minggu, 29 Maret 2015

The scientist



I think I have gone too far. But, I know this iteration. I feel it.
Like a scientist they said,
Lets going back to the start!
Once again, over and over again

"Iyyaa kana' budu wa iyyaa kanas ta'iin"

Sabtu, 28 Februari 2015

Media, Tujuannya?


Tak bisa dipungkiri, media sebagai sumber informasi berperan penting terhadap shape and identity sebuah Negara. Kualitas informasi yang diberikan, sedikit banyak, lama-kelamaan, akan mempengaruhi pembentukan mindset atau pola pikir masyarakat. Pola pikir yang berulang  tanpa sadar akan membentuk perilaku, hingga jauh dan berskala besar akan menjadi sebuah budaya. Hal yang semula tidak lazim, bisa berubah menjadi hal yang justru digemari. Beruntung jika hal baik. namun bila sebaliknya? 

Tak ada yang sulit untuk mengakses informasi kini. Dimanapun dan kapanpun, tiap orang bisa melakukannya. Lain saat dulu, media yang diandalkan hanyalah media cetak. Itu pun tak semua bisa. Radio? Tak banyak yang punya, lagi pula tak banyak saluran-nya. Media televisi bahkan bisa dihitung di setiap kampung. Tapi kini? Bahkan dalam satu rumah memiliki lebih dari satu televisi. Hampir tiap orang di kota bahkan memiliki telefon genggam yang mampu menyediakan apapun informasi yang diinginkan. 

Dari sekian banyak media yang tersedia, televisi-lah media nomor satu yang paling digemari di Indonesia. Media yang interaktif dan banyak hiburan. Menonton televisi telah menyatu menjadi bagian aktivitas rutin yang dilakukan masyarakat, setiap hari. Tak ayal, banyak para penjual produk/jasa yang menjajakkan jualannya di televisi. Atau bahasa televisi yang biasa didengar: iklan. Semakin banyak iklan, tentu pendapatan yang didapat para penyelenggara saluran televisi semakin besar. Hal ini menjadikan media televisi menjadi lahan bisnis yang begitu menggiurkan.

Saluran televisi berlomba-lomba untuk mencari banyak penonton agar banyak pula iklan. Banyak cara dilakukan, bermacam program ditayangkan untuk menarik penonton. Berlandaskan kreatifitas dan kebebasan media, program “yang penting laku” pun pada akhirnya banyak bermunculan.
Paham “yang penting laku” tersebut pasti memiliki akar. Berikut ini coba dijabarkan beberapa hal yang (menurut saya) menjadi akarnya.

      1. Kontroversi. Hal-hal yang justru berbau kontroversi entah kenapa justru digemari. Tayangan yang menyajikan kontroversi akhirnya marak bermunculan. Hal yang paling menarik perhatian banyak masyarkat tentu kontroversi para public figure atau lebih khususnya artis. Baru menikah tahun lalu tapi kenapa sudah ingin pisah? Baru pisah kok udah keliatan jalan berdua? Baru jalan berdua kok udah jalan sama yang lain? Baru jalan sama yang lain tapi kok jalan lagi sama sesama jenis? Ya, tapi demikianlah kenyataanya. Sebagian besar dari masyarakat menyukai hal tersebut. Lama-kelamaan ditonton, maka akan jadi hal yang lazim, tidak masalah untuk ditiru. Kelanjutannya? Budaya pun bergeser. Jadi salah siapa? Salah masayarakat? Mana mungkin disalahkan. Media yang seharusnya bertanggung-jawab atas ini. Sebenarnya sah-sah saja memberitakan public figure, asalkan berita yang baik-baik, bukan kontroversi dan simpang siur. Bisnis memang bisnis, tapi mungkin di sinilah peran pemerintah, sebagai pengendali. Namun kalau semua dibuat peraturan, tak akan pernah muncul kesadaran. Yang muncul mungkin hanya kecurangan-kecurangan. Kesadaran pemilik media pada akhirnya menjadi solusi yang diharapkan. Bahwa sebenarnya pasti ada saja produk yang ingin “mejeng” di acara tersebut bukan karena kontroversi, tapi karena attractive and innovative. Karena sejatinya bila bermanfaat, media itu mulia, menyampaikan informasi kepada siapa saja.

      2. Pakaian wanita. Kodrat lelaki tak bisa dielakkan pasti tertarik akan wanita. Dan beberapa media mengambil kesempatan ini sebagai cara ara mudah menjaring penonton lelaki. Kostum yang “mengundang” disediakan, bayaran artis ditinggikan, penonton tertarik, iklan mendekat, pemilik girang. Artis ya senang-senang saja dapat bayaran tinggi. Penonton tentu saja tertarik melihat yang asik juga cantik. Melihat rating naik, iklan ya mendekat. Awalnya terbuka atas saja, lalu ke bawah, kemudian samping, dan belakang pun jadi lah. Hari demi hari masyarakat tercuci. Pakaian seperti yang dipakai di televisi dianggap bagus, dianggap pantas. Parahnya, anak putih-abu-abu, anak putih-biru, bahkan sampai putih-merah pun ikut-ikutan meniru. Kebebasan berekspresi jadi dalih, seni mereka bilang, sehingga bukan salah media. Oh man, mereka telah berhasil mencuci kita, menggerogoti hal-hal lain yang seharusnya diperhatikan generasi muda kita. Siapa mereka? Entah lah. Padahal sebenarnya, wanita tetap menarik kok mengenakan pakaian yang sopan. Benar kan, lelaki? Kalau sudah begini, siapa yang salah? Lagi-lagi masyarakat tidak bisa disalahkan. Lembaga sensor disalahkan? Mereka sudah cukup benar. Mensensor apa yang terlihat tidak pantas,  menegur sebagian yang keluar batas. Tapi apa cukup? Tetap saja. Lagi-lagi kesadaran pemilik media yang paling bisa diharapkan. Kesadaran untuk menjaga akhlak para generasi muda dengan tidak menuhankan bisnis semata.

     3. Celaan. Beberapa acara menyediakan tempat untuk mengejek atau memberikan celaan satu sama lain. Hasilnya tertawa, penonton pun senang. Formula yang sama seperti sebelum-sebelumnya.  Hingga menghina secara tanpa sadar telah menjadi hal biasa.

     4. Pembodohan melalui musik. Musik sebenarnya baik untuk dijadikan program acara di televisi, tapi kalau sudah mengarah ke pembodohan? Hilang sudah tujuan muasik. Musik digunakan untuk berjoged tidak pantas, bahkan dilakukan anak kecil! Lagi-lagi berdalih kebebasan seni. Pih! 

      5. Pemberitaan yang berpolitik. Ketika pemilik media merupakan punggawa politik, mengerikan sekali. Kalau sudah begini, mungkin tujuan pemilik bukan lagi soal bisnisnya di media, tapi pencitraan diri / kelompok, bahkan pencitraan buruk kelompok lain. Media men-“drive” pemikiran masyarakat akan seseorang / sekelompok orang. Hal ini dilakukan demi kekuasaan, setelah uang telah berhasil didapatkan. Nyatanya, banyak juga masyarakat yang berminat, iklan mendekat. Sekali dayung, dua pulau telampaui. Dengan pemberitaan yang tidak lagi netral, buat apa lagi disebut media? Katakan saja biro iklan, biar jelas sekalian. Hal yang disesalkan adalah para reporter, pembawa berita dan seluruh kru media tersebut. Kalau sudah mau teracuni seperti itu, dimana idealisme dan jati dirinya sebagai awak media? Apakah hilang karena uang? Sayang sekali rasanya. Solusi? Hampir bosan menyebutnya, apalagi kalau bukan kesadaran pemilik. Kesadaran bahwa masyarakat membutuhkan tontonan yang menghibur dengan mendidik , tontonan yang memeberikan semangat nasionalisme, memberikan motivasi untuk membentuk kepribadian bangsa yang baik, tontonan yang dapat membakar semangat para generasi untuk berlomba-lomba berkarya di bidangnya masing-masing. Bukan tontonan yang disajikan hanya untuk meraup keuntungan semata. Ah, semoga mereka tersadar.

Memang tidak semua media televisi kita menggunakan ke-lima akar tersebut untuk menjaring penonton. Mungkin hanya sebagian. Tapi apa masih ada media yang tidak mengedepankan paham “yang penting laku”? Masih adakah yang tidak menggunakan akar-akar tersebut? 

Terkecuali saluran televisi nasional, sejauh ini saya kira “NET.” is still on the right track.

 
Program beritanya berimbang. Yang perlu di-kritik ya di-kritik. Yg perlu di-angkat ya di-angkat. Yang perlu anak Indonesia tau akan prestasi-prestasi membanggakan, pasti ditampilin. Ide-ide kreatif baru yang muncul juga disiarin. Pokoknya menebar optimisme, bukan pesimisme. Kritis membangun, bukan menjelekkan. Top!


Program lain yang menawarkan semangat optimisme, Satu Indonesia. Mengulas satu anak Indonesia yang keren, yang berprestasi, yang jago, yang jenius, yang kreatif, yang membanggakan, pokoknya yang keren! Lewat wawancara santai, visi misi keren mereka dijabarkan melalui jawaban-jawaban, Bikin orang yang nonton jadi ikut kebawa semangat mereka. Gokil!


Program dokumenter ada Indonesia Bagus dan Lentera Indonesia. Indonesia Bagus mengarah ke sumber daya alamnya, sedangkan lentera Indonesia lebih condong ke sumber dayanya. Dan semuanya tentang Indonesia.  Asik!




Program hiburannya, gak ada yang aneh-aneh, gak ada yang norak. Beberapa talkshow dan sitkom. Acara musiknya keren-keren, acara olahraga juga. Acara lawak malah ada yang pake wayang. Acara lainnya? Seru!

Wishnutama, salah satu orang keren dibalik stasiun TV ini. Visi-nya di media memang luar biasa. Semoga makin banyak orang-orang keren seperti beliau supaya makin banyak stasiun televisi seperti ini, bahkan lebih. Ohya, semoga juga makin banyak iklan-iklan yang nemplok di NET. supaya lahir lagi program-program keren yang lain. Terakhir, semoga gak ada yang beranggapan kalau saya promosi. Semoga.


 
Design by Muhammad Dimas Rahman Affandi | Bloggerized by campredodellaconcetta - samid namhar - @midsamid | Lampung-Jogjakarta-Indonesia