Minggu, 29 Maret 2015

The scientist



I think I have gone too far. But, I know this iteration. I feel it.
Like a scientist they said,
Lets going back to the start!
Once again, over and over again

"Iyyaa kana' budu wa iyyaa kanas ta'iin"

Sabtu, 28 Februari 2015

Media, Tujuannya?


Tak bisa dipungkiri, media sebagai sumber informasi berperan penting terhadap shape and identity sebuah Negara. Kualitas informasi yang diberikan, sedikit banyak, lama-kelamaan, akan mempengaruhi pembentukan mindset atau pola pikir masyarakat. Pola pikir yang berulang  tanpa sadar akan membentuk perilaku, hingga jauh dan berskala besar akan menjadi sebuah budaya. Hal yang semula tidak lazim, bisa berubah menjadi hal yang justru digemari. Beruntung jika hal baik. namun bila sebaliknya? 

Tak ada yang sulit untuk mengakses informasi kini. Dimanapun dan kapanpun, tiap orang bisa melakukannya. Lain saat dulu, media yang diandalkan hanyalah media cetak. Itu pun tak semua bisa. Radio? Tak banyak yang punya, lagi pula tak banyak saluran-nya. Media televisi bahkan bisa dihitung di setiap kampung. Tapi kini? Bahkan dalam satu rumah memiliki lebih dari satu televisi. Hampir tiap orang di kota bahkan memiliki telefon genggam yang mampu menyediakan apapun informasi yang diinginkan. 

Dari sekian banyak media yang tersedia, televisi-lah media nomor satu yang paling digemari di Indonesia. Media yang interaktif dan banyak hiburan. Menonton televisi telah menyatu menjadi bagian aktivitas rutin yang dilakukan masyarakat, setiap hari. Tak ayal, banyak para penjual produk/jasa yang menjajakkan jualannya di televisi. Atau bahasa televisi yang biasa didengar: iklan. Semakin banyak iklan, tentu pendapatan yang didapat para penyelenggara saluran televisi semakin besar. Hal ini menjadikan media televisi menjadi lahan bisnis yang begitu menggiurkan.

Saluran televisi berlomba-lomba untuk mencari banyak penonton agar banyak pula iklan. Banyak cara dilakukan, bermacam program ditayangkan untuk menarik penonton. Berlandaskan kreatifitas dan kebebasan media, program “yang penting laku” pun pada akhirnya banyak bermunculan.
Paham “yang penting laku” tersebut pasti memiliki akar. Berikut ini coba dijabarkan beberapa hal yang (menurut saya) menjadi akarnya.

      1. Kontroversi. Hal-hal yang justru berbau kontroversi entah kenapa justru digemari. Tayangan yang menyajikan kontroversi akhirnya marak bermunculan. Hal yang paling menarik perhatian banyak masyarkat tentu kontroversi para public figure atau lebih khususnya artis. Baru menikah tahun lalu tapi kenapa sudah ingin pisah? Baru pisah kok udah keliatan jalan berdua? Baru jalan berdua kok udah jalan sama yang lain? Baru jalan sama yang lain tapi kok jalan lagi sama sesama jenis? Ya, tapi demikianlah kenyataanya. Sebagian besar dari masyarakat menyukai hal tersebut. Lama-kelamaan ditonton, maka akan jadi hal yang lazim, tidak masalah untuk ditiru. Kelanjutannya? Budaya pun bergeser. Jadi salah siapa? Salah masayarakat? Mana mungkin disalahkan. Media yang seharusnya bertanggung-jawab atas ini. Sebenarnya sah-sah saja memberitakan public figure, asalkan berita yang baik-baik, bukan kontroversi dan simpang siur. Bisnis memang bisnis, tapi mungkin di sinilah peran pemerintah, sebagai pengendali. Namun kalau semua dibuat peraturan, tak akan pernah muncul kesadaran. Yang muncul mungkin hanya kecurangan-kecurangan. Kesadaran pemilik media pada akhirnya menjadi solusi yang diharapkan. Bahwa sebenarnya pasti ada saja produk yang ingin “mejeng” di acara tersebut bukan karena kontroversi, tapi karena attractive and innovative. Karena sejatinya bila bermanfaat, media itu mulia, menyampaikan informasi kepada siapa saja.

      2. Pakaian wanita. Kodrat lelaki tak bisa dielakkan pasti tertarik akan wanita. Dan beberapa media mengambil kesempatan ini sebagai cara ara mudah menjaring penonton lelaki. Kostum yang “mengundang” disediakan, bayaran artis ditinggikan, penonton tertarik, iklan mendekat, pemilik girang. Artis ya senang-senang saja dapat bayaran tinggi. Penonton tentu saja tertarik melihat yang asik juga cantik. Melihat rating naik, iklan ya mendekat. Awalnya terbuka atas saja, lalu ke bawah, kemudian samping, dan belakang pun jadi lah. Hari demi hari masyarakat tercuci. Pakaian seperti yang dipakai di televisi dianggap bagus, dianggap pantas. Parahnya, anak putih-abu-abu, anak putih-biru, bahkan sampai putih-merah pun ikut-ikutan meniru. Kebebasan berekspresi jadi dalih, seni mereka bilang, sehingga bukan salah media. Oh man, mereka telah berhasil mencuci kita, menggerogoti hal-hal lain yang seharusnya diperhatikan generasi muda kita. Siapa mereka? Entah lah. Padahal sebenarnya, wanita tetap menarik kok mengenakan pakaian yang sopan. Benar kan, lelaki? Kalau sudah begini, siapa yang salah? Lagi-lagi masyarakat tidak bisa disalahkan. Lembaga sensor disalahkan? Mereka sudah cukup benar. Mensensor apa yang terlihat tidak pantas,  menegur sebagian yang keluar batas. Tapi apa cukup? Tetap saja. Lagi-lagi kesadaran pemilik media yang paling bisa diharapkan. Kesadaran untuk menjaga akhlak para generasi muda dengan tidak menuhankan bisnis semata.

     3. Celaan. Beberapa acara menyediakan tempat untuk mengejek atau memberikan celaan satu sama lain. Hasilnya tertawa, penonton pun senang. Formula yang sama seperti sebelum-sebelumnya.  Hingga menghina secara tanpa sadar telah menjadi hal biasa.

     4. Pembodohan melalui musik. Musik sebenarnya baik untuk dijadikan program acara di televisi, tapi kalau sudah mengarah ke pembodohan? Hilang sudah tujuan muasik. Musik digunakan untuk berjoged tidak pantas, bahkan dilakukan anak kecil! Lagi-lagi berdalih kebebasan seni. Pih! 

      5. Pemberitaan yang berpolitik. Ketika pemilik media merupakan punggawa politik, mengerikan sekali. Kalau sudah begini, mungkin tujuan pemilik bukan lagi soal bisnisnya di media, tapi pencitraan diri / kelompok, bahkan pencitraan buruk kelompok lain. Media men-“drive” pemikiran masyarakat akan seseorang / sekelompok orang. Hal ini dilakukan demi kekuasaan, setelah uang telah berhasil didapatkan. Nyatanya, banyak juga masyarakat yang berminat, iklan mendekat. Sekali dayung, dua pulau telampaui. Dengan pemberitaan yang tidak lagi netral, buat apa lagi disebut media? Katakan saja biro iklan, biar jelas sekalian. Hal yang disesalkan adalah para reporter, pembawa berita dan seluruh kru media tersebut. Kalau sudah mau teracuni seperti itu, dimana idealisme dan jati dirinya sebagai awak media? Apakah hilang karena uang? Sayang sekali rasanya. Solusi? Hampir bosan menyebutnya, apalagi kalau bukan kesadaran pemilik. Kesadaran bahwa masyarakat membutuhkan tontonan yang menghibur dengan mendidik , tontonan yang memeberikan semangat nasionalisme, memberikan motivasi untuk membentuk kepribadian bangsa yang baik, tontonan yang dapat membakar semangat para generasi untuk berlomba-lomba berkarya di bidangnya masing-masing. Bukan tontonan yang disajikan hanya untuk meraup keuntungan semata. Ah, semoga mereka tersadar.

Memang tidak semua media televisi kita menggunakan ke-lima akar tersebut untuk menjaring penonton. Mungkin hanya sebagian. Tapi apa masih ada media yang tidak mengedepankan paham “yang penting laku”? Masih adakah yang tidak menggunakan akar-akar tersebut? 

Terkecuali saluran televisi nasional, sejauh ini saya kira “NET.” is still on the right track.

 
Program beritanya berimbang. Yang perlu di-kritik ya di-kritik. Yg perlu di-angkat ya di-angkat. Yang perlu anak Indonesia tau akan prestasi-prestasi membanggakan, pasti ditampilin. Ide-ide kreatif baru yang muncul juga disiarin. Pokoknya menebar optimisme, bukan pesimisme. Kritis membangun, bukan menjelekkan. Top!


Program lain yang menawarkan semangat optimisme, Satu Indonesia. Mengulas satu anak Indonesia yang keren, yang berprestasi, yang jago, yang jenius, yang kreatif, yang membanggakan, pokoknya yang keren! Lewat wawancara santai, visi misi keren mereka dijabarkan melalui jawaban-jawaban, Bikin orang yang nonton jadi ikut kebawa semangat mereka. Gokil!


Program dokumenter ada Indonesia Bagus dan Lentera Indonesia. Indonesia Bagus mengarah ke sumber daya alamnya, sedangkan lentera Indonesia lebih condong ke sumber dayanya. Dan semuanya tentang Indonesia.  Asik!




Program hiburannya, gak ada yang aneh-aneh, gak ada yang norak. Beberapa talkshow dan sitkom. Acara musiknya keren-keren, acara olahraga juga. Acara lawak malah ada yang pake wayang. Acara lainnya? Seru!

Wishnutama, salah satu orang keren dibalik stasiun TV ini. Visi-nya di media memang luar biasa. Semoga makin banyak orang-orang keren seperti beliau supaya makin banyak stasiun televisi seperti ini, bahkan lebih. Ohya, semoga juga makin banyak iklan-iklan yang nemplok di NET. supaya lahir lagi program-program keren yang lain. Terakhir, semoga gak ada yang beranggapan kalau saya promosi. Semoga.


Rabu, 25 Februari 2015

Paling penting nih



Ayo jaga kesehatan bro! Jaga kesehatan untuk sekarang dan untuk nanti. Kalo badan udah kerasa ngedrop, langsung kasih doping pake buah atau vitamin atau makanan sehat lain! Karena se-gimana-pun enaknya, tetep aja gak bisa dinikmatin kalo lagi gak sehat ;)

Mudah



Hari-hari sulit ini menyadarkan, bahwa ternyata diri ini tidak banyak berjuang. Mudah mengalah mudah menyerah.


Sabtu, 17 Januari 2015

Utara-Selatan



Pemandangan di luar jendela gelap, hanya ada satu buah lampu hemat energi 16 Watt dan seekor cicak yang sudah cukup lama berada di langit-langit balkon itu, berdiam diri mendekati lampu. Mungkin Ia menyukai cahaya, mungkin juga Ia merasakan hangat. Oh kalian tahu? Beberapa saat setelah mengetik beberapa kata di atas, cicak itu bergerak sedikit menjauhi lampu. Mungkin dia mulai mengerti kalau Saya membicarakannya. Mungkin saja, bukannya mereka sering bilang “apa yang tak mungkin”? Bahkan slogan alat olahraga ternama dunia saja bilang “Impossible is nothing”. Ya jelas sih, impossible yang artinya “tidak mungkin” itu kan sebenarnya tersusun dari dua kata: I’m & possible. Artinya: Saya mungkin. Aneh ya kata-kata itu. Sebenarnya siapa sih yang buat kata-kata? Bisa jadi sang pencipta kata-kata dahulunya memang sudah memikirkan itu. Bisa jadi. Oh ya, pertanyaan tadi belum terjawab. Siapa sih yang buat kata-kata? Pasti orangnya pinter deh. Pasti Ia sering bergaul alias bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya saat itu. Tapi yang jelas, pasti Ia punya kekurangan. Saya yakin. Karena tiap orang memiliki kekurangan. Hanya saja tidak banyak diantara orang-orang tersebut yang tidak terlalu mencemaskan kekurangannya. Beberapa lagi justru menjadikan kekurangannya menjadi kelebihan atau sebuah dorongan. Sebuah dorongan yang memacu dirinya untuk berbuat lebih, berbuat semaksimal mungkin. Pernah baca atau nonton sekuel novel Negeri 5 Menara? Ya, pasti kalian tahu kutipan “Man Jadda wa Jada”. Artinya: siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Bahkan saya menjadikan kutipan ini sebagai status di salah satu aplikasi telfon genggam untuk berkomunikasi via text. Harapannya: Saya bisa terus mengingat, mengingat untuk selalu berbuat sungguh-sungguh.

Sekedar informasi, tulisan di atas ditulis 24 November 2014. Artinya, sudah satu bulan kurang satu hari yang lalu tulisan itu dibuat. Lama, tapi cukup wajar untuk seorang penulis berstatus abal-abal. Menulis kalau sempat, menulis kalau tidak ada lagi yang dikerjakan. Oke baiklah, ganti paragraf saja.

Pagi ini, mungkin sebagian orang masih beristirahat di atas tempat tidurnya. Sebagian yang lain sedang bersiap-siap untuk beribadah. Sebagian yang lain mungkin malah masih bekerja walaupun hari ini adalah hari libur nasional menghormati kaum nasrani yang merayakan ibadah besarnya. Untuk saya sendiri? Saya berada di pilihan pertama dan ketiga. Masih beristirahat tapi juga masih bekerja. 

Handy Talkie (HT) berdiri saja di batasan jendela, satu-satunya akses menuju balkon. Sejak satu jam yang lalu saya memantau suara-suara dari HT sambil sedikit-sedikit ikut berkomunikasi. Maklum, HT merupakan satu-satunya alat komunikasi yang efektif untuk menjaga kondisi kelistrikan. Tak perlu biaya, jangkauan cukup luas, dan yang terpenting bisa didengar oleh banyak pemegang HT yang lain yang menggunakan frekuensi yang sama. Kredit untuk pencipta HT.

Sudah hampir 6 bulan saya sah bekerja di perusahaan listrik milik negara ini. 

(skip)

Lagi-lagi tulisan tertunda, hari itu tanggal 25 Desember 2014. Saya baru ingat kalau saya harus beranjak, sehingga baru bisa dilanjutkan lagi hari ini. Oke, lanjut.

Ya, dalam jangka waktu hampir setengah tahun tersebut, banyak sekali hal-hal baru yang saya temui, yang saya dapati. Pengalaman-pengalaman baru yang seru, masalah-masalah baru yang menantang. 

Sumatera Utara merupakan provinsi paling utara di Indonesia yang pernah saya singgahi saat pertama kali menginjakkan kaki di sini. Panas? Tidak begitu. Lebih panas Kota Balikpapan. Tapi panas itu relatif kok, jadi jangan dijadikan acuan. Udara? Cukup segar, terutama dibandingkan dengan Jakarta, sampai-sampai langit biru tidak pernah terlihat lagi karena tertutup polusi. Eits tapi jangan salah, justru karena polusi-polusi itu, matahari senja di Jakarta jadi yang paling keren. Coba deh liat setiap senja di Jakarta, asalkan tidak mendung, matahari bakal terlihat besar dan bundar. Kita bisa melihat jelas tiap lekuknya, tanpa takut silaunya, berada di antara gedung-gedung bertingkat. Polusi telah mem-filter silau cahayanya sehingga silau di pinggir-pinggir bundaran matahari tidak nampak. Panas, udara, selanjutnya budaya. Kata orang, entah siapa orang itu, budaya orang-orang di Sumatera Utara itu cenderung keras. Tapi tak tahu lah, saya tidak begitu peduli. Justru semakin ingin tahu. Terutama ingin tahu destinasi-destinasi wisata alam yang banyak di kota terbesar di Sumatera ini. Yeahu!

Excited? Tidak begitu. Saya hanya coba mensyukuri yang telah diberikan, walau ada rasa sedih karena jauh dari kampung halaman. Jauh dari orang tua yang saat ini hanya tinggal berdua di rumah, yang sudah tidak muda lagi. Kalau bisa pun meminta, ingin rasanya dapat di sana saja. Bersama mereka, dekat dengan mereka. Tapi? Ah balik lagi, coba syukuri saja yang didapat ini, sambil mencari pengalaman dan belajar sebanyak-banyaknya, sambil berdoa agar cepat kembali ke kampung halaman. Doain terus ya Mah, Pah! :)

Tempat kedua saya bekerja ini sangat berbeda dengan tempat saya bekerja pertama kali. Kalo dijadiin satu kata mungkin jadinya, “lebih-bebas”. Kebebasan ini yang jadi ujian buat saya sendiri. Bisa atau tidak tetap berada di track yang benar. Hablumminallah dan hablumminannas. Bebas di sini luas banget, tapi bukan yang macem-macem ya. Next post bahas lebih rinci tentang ini deh.

Intinya.. (delete) postingan ini ngalur-ngidul. Mungkin efek karena ditunda. Mungkin juga karena gak ada tempat buat dicurhatin. Haha!!

 
Design by Muhammad Dimas Rahman Affandi | Bloggerized by campredodellaconcetta - samid namhar - @midsamid | Lampung-Jogjakarta-Indonesia