Kamis, 25 Agustus 2016

Is if


Saddest song ever. Udah gitu, Adele pula yang nyanyi. Coknan. Cocok tenan.


Minggu, 10 Juli 2016

Lebaran



Sehari-hari beraktifitas, bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar. Beberapa tidak dikenal, lebih banyak yang dikenal. Dari keluarga hingga teman kerja.
Sengaja atau tidak disengaja, pasti seseorang pernah melakukan salah. Baik lisan maupun perbuatan, atau bahkan hanya sekedar dugaan.
Hingga suatu saat waktu itu datang. Hampir setiap tahunnya, setiap insan diberikan momen yang tepat untuk saling bermaafan. Momen kemenangan setelah satu bulan menahan nafsu manusiawi, duniawi. Bener-bener momen yang pas buat "re-start your life", seperti kertas coretan yang kembali kosong lalu siap ditulis kembali, diwarnai lagi. Indah banget. Maha Keren banget Yang Nyiptain momen itu. 😘

Poncowati, Lampung Tengah.

Minggu, 12 Juni 2016

Semua-semua dipikirin




Pagi ini masih gelap. Kokok ayam terdengar bersahutan diiringi sesekali suara petasan. Belakangan ini saya seperti tinggal di daerah konflik. Banyak sekali suara tembakan yang terdengar dari jendela, seperti sedang terjadi peperangan antara Tentara Indonesia dengan Militan Gerakan Aceh Merdeka. Kadang ada suara berentetan, terkadang lagi ada suara dentuman keras dari kejauhan, tapi ada juga sesekali terdengar suara letusan yang cempreng, petasannya sudah “aus”.

Pagi ini juga hujan. Tidak deras, hanya rintik-rintik. Hujan cukup lama hingga cahaya pagi tidak seperti biasanya. Kelabu tertutup awan. Satu minggu kemarin, hujan datang setiap hari, setiap sore. Hujan deras plus angin kencang. Dengan durasi yang tidak lama, tapi cukup untuk menerbangkan atap rumah dan merontokkan dahan-dahan pohon. Banyak yang kurang menyuka hujan saat itu, saya sejak dulu. Tapi, itu lah manusia. Justru sejak seminggu hujan itu, saya setelahnya tersadar. Karena durasi yang tak lama, saya selalu keluar saat hujan reda. Udara setelah hujan reda tidak ada tandingannya. Saya suka udara setelah hujan reda. Pagi ini saya suka.

By the way, kenapa hujan-hujan petasannya masih hidup? Entah lah. Gitu aja dipikirin.




Sabtu, 28 Mei 2016

It's in your blood



fixing up a car to drive in it again
searching for the water hoping for the rain
up and up, up and up

down upon the canvas, working meal to meal
waiting for a chance to pick your orange field
up and up, up and up

see a pearl form, a diamond in the rough
see a bird soaring high above the flood
it’s in your blood, it’s in your blood

we’re going to get it get it together I know
going to get it get it together and flow
going to get it get it together and go

Up&Up - Coldplay



Note: Yeah I am really up for this

Sabtu, 19 Maret 2016

Nggak ada apa-apa nya


Nggak ada apa-apa nya tanpa Alloh.
Dari dulu, semuanya ini cuman bantuan-Nya aja
Permohonan bantuan yang untungnya dijaga
Dan ketika permohonan itu tidak lagi ada
Bener, gak ada apa-apa nya
Tanpa Alloh nggak ada apa-apa nya.

Senin, 01 Februari 2016

Nobody


All my life you stood by me
when no one else was ever behind me
All these lights they can't blind me
with your love nobody can drag me down
Nobody, nobody
nobody can drag me down
 

Minggu, 24 Januari 2016

Budaya


budaya/bu·da·ya/ n 1 pikiran; akal budi: hasil --; 2 adat istiadat: menyelidiki bahasa dan --; 3 sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju): jiwa yang --; 4 cak sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah;

Budaya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah”. Terdapat kata “sukar” di dalam definisi tersebut, yang artinya, bukan tidak mungkin dapat diubah.
Beberapa hari yang lalu, saya berenang di sebuah kolam renang yang terletak di dalam kompleks perumahan. Kebetulan sedang ada acara perayaan tahun baru (yang tidak saya ketahui sebelumnya), sehingga kolam sangat dipadati oleh pengunjung. Di sisi pinggir kolam terdapat panggung yang menampilkan beberapa artis Ibukota. Salah satu lagu yang mereka bawakan masing-masing pasti ada lagu yang berbahasa daerah. Memang masih bagus budaya kedaerahan di sini. Mereka lebih senang menyanyikan lagu batak ketimbang lagu barat. Mereka lebih senang berkomunikasi dengan bahasa daerah mereka (ketika antar mereka berkomunikasi), bahkan ketimbang menggunakan bahasa Indonesia. Mereka tidak malu berkomunikasi menggunakan bahasa daerah, tidak seperti di kampung halaman saya yang seperti dianggap “kampungan” ketika berkomunikasi menggunakan bahasa daerah. Efek dari itu, saya lihat, tidak banyak dari mereka yang bisa, atau sekedar mau, untuk belajar bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional yang di tahun ini mulai sangat diperlukan akibat diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Oke, mungkin itu terlalu jauh.
Keadaan kolam begitu padat. Hingga teman yang sedang ingin belajar berenang sampai kebingungan karena selalu menabrak orang lain ketika baru berenang sedikit saja (karena belum bisa melihat ke depan). Semuanya masih berjalan seperti biasanya hingga semburat senja di langit berangsur-angsur menguning kemerah-merahan. Sebagian dari pengunjung mulai meninggalkan tempat. Tapi sayangnya, sebagian dari mereka tidak hanya meninggalkan tempat, tapi juga meninggalkan sampah. Bungkus mie gelas, bungkusan roti, bungkusan cemilan mereka biarkan tercecer di pinggiran kolam, bahkan hingga tergenang masuk ke dalam kolam renang. Benar-benar pemandangan yang menjijikkan. Bayangkan saja, di tempat kolam renang seperti itu, yang dituntut kebersihannya, yang bukan tidak ada kotak sampahnya, dengan mudahnya mereka buang sampah makanan dimana mereka suka. Habis makan di sini, buang di sini. Habis makan di sana, buang di sana, “biarkan aja, nanti juga ada yang bersihin”.  Sebuah perilaku yang buruk, yang sudah menjadi kebiasaan, membudaya.
Budaya tersebut terbawa dimana saja, kapan saja. Di dalam mobil, di areal parkir, di taman bermain, dll. Memang, ada sedikit faktor lingkungan yang membentuk budaya. Ambil contoh seperti di kolam renang. Andaikan saja tempat sampah tersedia di seluruh penjuru tempat, dengan bentuk yang lucu dan menarik, mungkin ceritanya akan lain. Mungkin, bisa saja.
Selain membuang sampah, ada juga budaya berkendara. Kali ini di lokasi yang berbeda, Jogjakarta. Bila mengamati lalu lintas di jalanan Jogjakarta, maka ada yang sedikit berbeda. Di persimpangan lampu lalu lintas kota, ada satu tempat khusus bagi pengendara sepeda. Warnanya hijau, tulisannya jelas, tidak begitu luas tapi cukup untuk membuat istimewa. Jangankan mobil, bahkan motor pun (bisa dibilang) sangat jarang yang “berani” berhenti di areal khusus sepeda tersebut. Bukan tidak berani karena takut di-tilang polisi, tapi karena.. ya karena sudah budayanya seperti itu. Budaya malu untuk melanggar. Budaya yang terbentuk akibat kebiasaan. Karena tak ada satu pun yang melanggar, jadi, siapapun itu, bahkan orang pendatang yang sudah sering melanggar di kota-nya sendiri sekalipun, akan segan untuk melanggar. Bahkan sampai ada yang rela me-mundurkan kendaraannya ke posisi yang seharusnya ketika sudah terlanjur melanggar. Keren.
Memang terdapat faktor lingkungan-yang-mendukung dalam pembentukan budaya, saya mengakuinya. Tapi menurut saya, budaya terbentuk dari lingkup terkecil, yaitu “meja makan keluarga”.
Dasar kepribadian, karakter, pola perilaku, terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan yang dajarkan dan diterapkan di dalam keluarga, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Semuanya dimulai bahkan sejak kita masih belum bisa berbicara, berjalan, dsb. Contoh kecil, seseorang keturunan jawa, yang di keluarganya selalu menggunakan bahasa jawa dalam berkomunikasi akan pandai berbahasa jawa saat Ia baru berusia 6 tahun. Seorang anak yang biasa melihat kedua orangtuanya beserta kakak-kakaknya mengucapkan salam ketika memasuki rumah, tanpa harus diajari akan dengan sendirinya mengikuti kebiasaan tersebut. Seorang anak yang biasa diajak berbincang dan berdiskusi positif di meja makan tentang apa saja yang telah dilaluinya seharian, tentang apa saja yang terjadi di luar sana, akan dengan sendirinya bercerita dan menjadi sesosok anak yang terbuka kepada keluarga walau Ia seorang yang pendiam sekalipun. Hal-hal yang biasa dicontohkan di dalam keluarga, akan terbawa dan membentuk 70% pribadi seseorang. Memang sebuah teori yang saya ciptakan sendiri, tapi saya percayai kebenarannya. Sisanya? Sisanya lingkungan. Dan lingkungan itu 80% diciptakan oleh orang tua. Pemilihan tempat sekolah, tempat les, tempat belajar mengaji, kawan bermain dan masih banyak lagi.
Bicara mengenai orangtua, tak terasa sudah ada dua teman sekelas semasa SMA yang sudah menjadi orangtua. Syafira yang pertama, disusul Lathifa. Senang sekali mendengarnya. Kedua buah hati mereka sama-sama perempuan, sama-sama cantik. Kini sudah waktunya bagi mereka mempersiapkan meja makan untuk kedua buah hatinya agar kelak menjadi pribadi yang menyenangkan dan membanggakan. Saya? Wah jangankan menyiapkan meja makan,  makan saja terkadang masih belepotan, berjatuhan dimana-mana.

In short, saya benar-benar sungguh beruntung dilahirkan di keluarga ini. J

 


Jumat, 01 Januari 2016



Aku tertawa lalu menangis. Aku menangis kemudian gusar. Aku tidak tahu bagaimana wajahku yang sesungguhnya nanti pada akhirnya. Sungguh, jika kau melihatku bersinar pada malam, itu bukanlah sinaranku. Matahari telah memantulkan cahayanya sehingga aku terlihat lembut di matamu.
Dengan jarakmu denganku yang tak seberapa, aku leluasa melihatmu setiap waktu. Dan dengan keterbatasanmu, kau pikir aku hanya ada pada malammu.
Yang sebenarnya ada dalam hatiku adalah kekalutan yang sama sepertimu. Aku dan matahari. Kalian pikir kami bahagia dengan perjalanan panjang yang rasanya tak berujung ini? Melihat kalian berjatuhan, bangkit, menikam, lalu tiba-tiba bersenda gurau, dan entah akhir seperti apa yang kalian harapkan.
Kubisikkan sekali lagi padamu. Lihatlah matahari pada siangmu. Ketika kau tundukan wajahmu di atas sajadah dhuha-mu. Dengan nama Allah Tuhan Sekalian Alam, jadikan imanmu pada Allah laksana matahari, memancar dan menghidupi.
Tatkala malam menjelang, pandanglah aku pada gelapmu yang pekat. Aku akan tersenyum dengan sangat indah. Saat mustakamu kau benamkan lagi dalam tangis tahajudmu, ketika kau berurai air mata karena merasa dirimu begitu kecil, guratan muram di wajahku sedikit demi sedikit akan menghilang. Atas nama Allah Tuhan Penguasa Siang dan Malam. Jadikan amalanmu laksana bulan purnama yang menerangi kegelapan.
Aku, kau, dan matahari. Kita berada dalam satu sumbu yang sama, dan matahari dialah pusat tata surya. Sebagaimana iman pada Allah yang seharusnya menjadi pusat semesta kita. Ketika malam tiba, purnamamu adalah pantulan “imanmu”. Bulan bersinar terang, karenalah matahari memancar dengan elegan. Tanpa matahari iman, setiap keadaan hanyalah gumpalan dataran hitam, gelap gulita, dan tak berguna.
Kemudian teringat janjiku pada matahari saat hari nahas itu. Sungguh aku iri pada matahari karena dirinya tak pernah diminta Tuhan membelah sepertiku. Lalu aku menangis, karena aku malu pada Sang Penciptaku…

Dari aku, saksi mata segala generasi.

-Sepenggal kutipan di penghujung buku Bulan Terbelah di Langit Amerika
Karya Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra- 

Catatan: Bertambah lagi. Buku yang di-filmkan kembali mengecewakan.

Sabtu, 12 Desember 2015

Celestial

"and though you might be gone, and the world may not know
still I see you, celestial"
#Everglow


Minggu, 01 November 2015

Tidak ada lagi alasan


"Tidak ada lagi alibi, tidak ada lagi alasan. Mulai dari awal bulan yang baru ini, tak ada lagi yang bisa kau salahkan, dim"

16-hours-of-working-almsost-everyday since a year ago, honestly, had been killing me. Started in the morning, finished in midnight. Almost no weekend. Working hours everyday has ruined my normal-life, literally. Tapi sekarang, alhamdulillah sudah berubah. Jam kerja berkurang (kembali normal), namun amanah dan tanggung jawab bertambah. Semoga amanah ini bisa dijalankan dengan sebaik mungkin dan semua kembali berjalan normal. Aamin.


Big Hope. Less Effort.




Alhamdulillah dalam dua hari ini setiap pagi turun hujan. Hujan dengan intensitas sedang, dalam durasi yang cukup panjang. Yang kerennya, hujan perlahan mereda ketika mulai memasuki jam-jam pergi ke kantor. Semoga aja pagi ini hujannya gak ngambek karena diceritain. 

Bicara soal hujan, ada lagi satu hal yang keren. Jadi ketika baca artinya tadi subuh, ternyata salah-satu-proses terbentuknya kehidupan di bumi ini sudah dijelaskan sejak-dahulu-kala di dalam Al-Qur’an. Disebutkan di dalamnya:

“Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi yang tadinya sudah mati”

Apa yang dijelaskan di sana, sama persis dengan apa yang saya ketahui sebelumnya melalui buku ilmu pengetahuan (jadul) dan salah satu program televisi. Kedua informasi tersebut lahir setelah diadakan bermacam-macam penelitian oleh bermacam-macam peneliti, sedangkan Al-Qur’an? Jauh sebelum (bahkan) kata “penelitian” itu sendiri ditemukan. Keren.

Medan, atau bahkan Sumatera bagian utara, atau lebih luas lagi bahkan Indonesia, saat ini benar-benar sedang membutuhkan hujan. Turunnya hujan sangat diharapkan agar kabut asap yang telah (tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata), dapat terjernihkan dengan air hujan dan kebakaran-kebakaran hutan yang masih sedang terjadi tidak meluas. Bencana kabut asap ini merupakan bencana yang benar-benar menjadi ujian bagi pemerintah, khsusnya Bapak Presiden yang baru (setahun). Serangannya tidak hanya di satu kampung, satu daerah, atau bahkan satu provinsi, tapi sudah di beberapa pulau dengan berjuta populasi di dalamnya. Ironisnya, pelaku utama hanya segelintir orang saja, tapi efeknya begitu luar biasa. Kecewa sebenarnya ketika masalah yang begitu massive seperti ini tidak menjadi perhatian utama. Menurut saya, tak seharusnya beliau mengadakan kunjungan (walaupun saya tahu sudah dijadwalkan sejak lama dan sulit untuk dibatalkan) ketika bencana kabut asap ini masih terjadi. Benahi dengan bergotong-royong dan berbagai cara, tangkap pelakunya, dan berikan hukuman mati!  Cukup ekstrem memang, tapi lihat akibatnya. Pembunuhan massal secara tidak langsung, meruntuhkan kegiatan perekonomian secara perlahan dan merusak citra Negara. Terlebih beberapa pelaku yang sudah tertangkap adalah Warga Negara Asing yang sudah pasti tidak peduli atau “mampus situ” dengan efek yang diberikan. Memang sebenarnya sudah ada peraturan hukum akan sanksi bagi pelaku, tapi hukuman mati itu pantas!

 28 Oktober 2015
 pada saat jam biologis mulai kembali normal


Sabtu, 24 Oktober 2015


Impulsive Alaska

Selasa, 13 Oktober 2015




  a great pleasure :]

Sabtu, 10 Oktober 2015

Selamat Pagi!


"Selamat pagi Bang Dimas", ucapnya sambil senyum-senyum ke arahku. Tau sekali aku gayanya yang meledekku karena pagi-pagi sudah sok-sibuk di depan komputer. Bang Irul nama panggilannya. Dia salah satu security kami dan satu-satunya security kami yang perawakannya seperti orang benggali. Kulit coklat tua, tinggi, ramping, potongan rambut cepak, serta brewok kasar di sekitar wajah dan dagunya membuatnya terlihat seperti Adam Levine yang terlalu banyak tanning dalam program diet yang berantakan. Yeah, terlepas dari perawakannya, dia orang yang baik, asik, santai tapi serius, dan agak mesum. Untuk yang terakhir, mungkin berlaku untuk hampir semua orang di sini. Di kantor yang aku tiduri tadi malam. Mungkin lebih tepatnya disebut aula, bukan kantor, karena ruang tengahnya saja sudah memenuhi hampir 80% bangunan, tanpa ada sekat.
"What's your weirdest morning-after experience?", langsung teringat olehku saat bangun pagi tadi, efek dari buku yang semalam kubaca. Kalau experience aku sendiri, rasanya kalau diingat-ingat tidak ada experience yang keinget banget. Paling sewaktu kuliah dulu, itu pun bukan weird. Hampir setiap sabtu pagi, aku selalu punya rutinitas, yaitu jogging pagi di GSP (Grha Sabha Pramana, gedung serba guna-nya kampus). Kadang sendiri, kadang ngajak teman, walau sebenernya kalau dihitung-hitung lebih sering sendiri, karena agak payah ngajak temen yang bisa bangun pagi terus lari jam 6 pagi. Asik emang kalau hidup kita udah ada SOP nya. Setiap hari "ini" kita kesini, setiap hari "ini" kita melakukan ini, setiap bulan harus minimal "gini", setiap pagi habis "ini" harus "itu", dan "ini", "gini","gitu" sebagainya. Rutinitas baik yang akhirnya menjadi habit. The power of habit kalau kata orang. Wah, ternyata pagi sudah mulai menghilang. Siang ini kami mau main futsal dalam rangka turnamen tahunan. Sebagai juara bertahan tahun lalu (juara 3 sih), kita harus siap-siap dengan matang karena kata orang bilang "victory loves preparation". Oke kalimat terakhir berlebihan. Bye!


Sabtu, 12 September 2015



“Here's what's not beautiful about it: from here, you can't see the rust or the cracked paint or whatever, but you can tell what the place really is. You can see how fake it all is. It's not even hard enough to be made out of plastic. It's a paper town. I mean, look at it, Q: look at all those culs-de-sac, those streets that turn in on themselves, all the houses that were built to fall apart. All those paper people living in their paper houses, burning the future to stay warm. All the paper kids drinking beer some bum bought for them at the paper convenience store. Everyone demented with the mania of owning things. All the things paper-thin and paper-frail. And all the people, too. I've lived here for eighteen years and I have never once in my life come across anyone who cares about anything that matters.”

Margo Roth Spiegelman
Paper Town by John Green 
Photo taken: 4th of January 2013 from the top of Mt. Ungaran, Central Java

Minggu, 30 Agustus 2015

*emote tangan berotot*



Lampung.
Jogja.
Dieng.
Balikpapan.
Jakarta.
Bogor.
Malang.
Palembang.
Medan.

Sejauh ini, kota yang disebutkan terakhir yang paling bikin geleng-geleng kepala, sebelum akhirnya menghela napas cukup panjang.




Catatan: Daftar kota yang pernah dijadikan tempat persinggahan cukup lama

Minggu, 17 Mei 2015

Yogyakarta Coin a Chance: Mari berbagi!




“Ada nih, di komunitas ini kamu bisa punya kesempatan buat punya adek, jadi kakak pendamping namanya..”

Kira-kira seperti itu isi pesan singkat yang baru saja masuk,
Pesan dari seorang teman yang sudah lebih dulu gabung ke dalam komunitas tersebut.

Menarik. Menarik sekali info tersebut. Sesuai sekali dengan salah satu keinginan saya yang ingin memiliki adik kecil, salah satu keinginan yang bisa jadi dimiliki oleh hampir seluruh anak bungsu di dunia ini. Salah satu keinginan untuk bisa membantu. Sebelumnya, saya, berdua bersama teman-satu-usaha, juga pernah memiliki “adik-bersama”, namun sepertinya punya sendiri lebih asik. Tanpa banyak menimbang, saya mengambil kesempatan ini. Lokasi pertemuan: Kedai Alpukat, Jakal (Jalan Kaliurang, Jogjakarta).

Terlambat, namun tetap saja disambut dengan hangat. Saat itu pertama kali saya melihat langsung aktivitas yang masih terasa lazim bagi saya, menghitung koin. Oh Ibu, apa yang mereka lakukan? Dalam hati bertanya. Mas Agung adalah orang yang pertama kali saya kenal, setelah teman saya tentunya, yang saat itu kebetulan tidak dapat hadir. Setelah perkenalan sekenanya, berbincang sedikit dengan beberapa orang di sana, saya langsung dihadapkan oleh sang koordinator pendamping saat itu, Mba Fabi. Saat itu juga, saya akan diberikan tanggung jawab adik asuh, namun nampaknya Mba Fabi masih cukup bingung untuk memilihkannya. Tiada lain, kuasa-nya lah yang telah mengatur ini semua, hingga semesta menyetujuinya. “Kamu bakal gantiin Mas Ardi sebagai kakak pendampingnya Dek Alif, jadi nanti kamu koordinasiin lagi aja sama dia ya”.

Yak, nama itu sudah terucap, merambat melalui udara, masuk melalui lubang telinga, lalu diperbesar oleh gendangnya, untuk selanjutnya diproses ke dalam otak saya. Alif. “Anaknya baik, pinter kok”, tambah Mba Fabi untuk meyakinkan saya yang mungkin tampak ragu kala itu. Banyak pertanyaan saya lontarkan mengenai komunitas ini dan jobdesk sebagai kakak pendamping. Belum tuntas kebingunganku, acara telah selesai. Giliran sekarang acara bebas. Pecah sudah. Kalian pernah lihat orang bermain pingpong? Nah, itu saja yang dibayangkan, persis sekali, silih berganti, namun bola kau ibaratkan tawa. Jelas nampak gembira sekali rona wajah mereka semua. Kesan pertama: Asik.

Sepulang dari pertemuan tersebut, sebenarnya masih ada yang tak sesuai dengan ekspektasi saya, khususnya untuk kegiatan yang dilakukan. Pertama, ngumpul-untuk-ngitung-koin atau yang biasa orang bule bilang, coin dropping, itu hanya dilakukan sebulan sekali. Wah, menurut saya ini tergolong lama. Mungkin karena saya terbiasa di lingkungan kampus yang kegiatannya dilakukan seminggu sekali, atau bahkan kurang dari itu. Kedua, mengenai adik asuh. Saya bingung, jadi tugas kakak pendamping “cuman” mengawasi seperti itu? Tak ada kegiatan lain seperti misalnya dalam bayangan saya, berkelompok membuat sebuah kelas untuk mengajar? Tidak ada? Wah, yasudalah, saya coba dulu jalani komunitas “tidak biasa” ini. Hal yang dilakukan pertama: Menghubungi Mas Ardi.

Seminggu berlalu, dua minggu berlalu, masih belum ada yang dapat saya lakukan. Karena kebetulan Mas Ardi belum punya waktu untuk menemani saya menuju rumah sang adik asuh yang sebenarnya sudah saya lihat raganya melalui poster yang terpampang jelas di dinding basecamp. Ternyata minggu ketiga. Mas Ardi dahulu yang menawari saya kali ini. Oke, hari telah disepakati, deal. Harinya pun tiba. Saya siapkan kaos klub sepakbola kebanggaan, lalu berangkatlah saya menuju jalan yang dahulu sepertinya pernah saya tempuh saat menuju Pantai Depok. Jalan Bantul. Setelah berpapasan di jalan, kami menuju rumah Dek Alif. “Dekat sini mas?”, tanyaku. “Masih lumayan dim”, jawabnya cepat. Benar saja, puluhan rumah terlewat, telah banyak hamparan sawah dilalui, belum ada tanda-tanda Mas Ardi ingin berbelok. Hingga Mas Ardi menunjuk sebuah tempat pengisian bahan bakar, tak lama dari itu, tepat di samping sebuah toko klontong, kita berbelok. Gang kecil, jalanan yang tak rata, sepeda yang lalu lalang, anak-anak yang asyik berlarian, beberapa Ibu yang sedang bercengkrama di pinggiran jalan, ah damai sekali, menenangkan sekali. Kami ditunjukkan oleh Yanti, yang juga adik asuh, jalan menuju rumah Dek Alif. Sepedanya terhenti, sambil menunjuk ke arah sebuah rumah. Isi perasaan saya: Campur aduk.

Tanpa semen, tanpa cat, berpagar bambu, kami masuk ke dalam rumah melewati sebuah pohon mangga muda dan sebuah kandang ayam yang berpenghuni. Belum sampai ke teras rumah, seorang bocah berbaju putih keluar dari rumah, menemui kami. Oh, salah, menemui Mas Ardi, menyalaminya. Akhirnya, untuk kali pertama saya melihatnya secara langsung. Tak lama, Ibunya pun keluar menemui kami. Senyum terlempar jelas dari wajahnya menyambut kedatangan kami. Oh, salah lagi, kedatangan Mas Ardi, karena sewaktu itu saya belum memperkenalkan diri. Setelah kami masuk, barulah Mas Ardi memberitahu bahwa saya akan menjadi penggantinya dalam menjadi kakak pendamping. Bertanya-tanya sedikit kepada Ibu dan Dek Alif, perkenalan singkat dan foto bersama yang menandakan saya sah menggantikan Mas Ardi menjadi kakak pendamping Anak cowo senang olahraga dan main gitar ini, Dek Alif!
Hari-hari berlalu, “pendekatan” saya kepada Dek Alif berjalan lancar. Saya ajak main bola di dekat rumahnya, saya ajak main gitar bareng, saya ajak main ke tempat-tempat seru. Ternyata dibalik pendiamnya, Dek Alif juga punya selera humor kalau kita sudah kenal. Suka ngelawak dan suka nyeplos. Kalau sudah begini, saya coba mulai masuk ke masalah pelajaran. Matematika dan IPA, hanya dua mata pelajaran itu yang kami diskusikan. Ngerjain soal di buku LKS atau sekedar ngerjain PR nya. Pintar alias cepat nangkap, tapi susah buat fokus. Mungkin karena masih kelas 4 SD. Aktifitas seperti itu berjalan rutin hampir setiap minggu. Terkadang saya hanya menjumpai Ibu atau Bapaknya untuk sekedar ngobrol tentang Dek Alif. Dek Alif pernah masuk berita di koran, pernah ikut mewakili sekolahnya turnamen sepakbola, dan yang paling teringat, Dek Alif pernah membelikan Ibunya mesin jahit dari hasil uang jajan dan uang beasiswanya. Anak sekecil itu dalam segala keterbatasannya, sudah berpikiran sedemikian hebat. Salut! Rasa kesederhanaan, tak pernah pernah mengeluh, selalu ceria dan kasih sayangnya pada kedua orangtua, sebagai kakak pendamping Dek Alif, rasanya justru saya yang lebih banyak “diajari”.
 
“Coin a Chance!” adalah nama komunitas yang keren ini. Komunitas “Coin a Chance!” telah tersebar di beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta dan masih banyak lagi. Sesuai dengan namanya, komunitas “Coin a Chance” adalah komunitas yang berhubungan dengan koin dan kesempatan. Koin sebagai perantara dan kesempatan buat adik-adik kurang mampu untuk mecapai mimpi sebagai tujuannya. Koin? Adik kurang mampu? Apa sih?

Tanpa kita sadari, masih banyak di luaran sana anak-anak yang tak mampu melanjutkan sekolahnya. Bukan karena tidak lulus, melainkan karena faktor ekonomi yang tidak mendukung. Memang ada program pemerintah untuk itu, tapi kenyataanya, tak semua anak-anak tersebut bisa mendapatkan kesempatan itu. Kesempatan apa? Kesempatan untuk berhak mendapatkan pendidikan seperti yang tercantun dalam undang-undang, kesempatan untuk dapat mewujudkan mimpinya agar kelak bisa merubah kehidupan keluarganya. Berlandaskan hal ini, Coin a Chance! Mecoba menghidupkan kembali kesempatan itu, melalui koin. Kenapa koin? Bukannya nilainya kecil?


Mungkin bagi sebagian orang, koin masih dianggap remeh, koin masih dianggap sebelah mata, tak ada harganya. Lihat saja, di sebagian toko-toko klontong, uang kembalian berupa uang koin ditukar dengan permen. Bahkan mungkin kita mengalami sendiri, koin kita simpan hanya untuk berjaga-jaga apabila ada pengamen beserta kawan-kawannya. Padahal bila “uang-uang tak berharga” itu dikumpulkan, koin-koin tersebut dapat melanjutkan mimpi sebagian anak-anak yang kurang mampu. Selain karena sifatnya yang “remeh”, ada satu hal mendasar lain yang menjadikan koin sebagai perantaranya, yaitu: karena koin itu mudah. Mudah dalam arti, hampir semua orang, semua kalangan bisa berkontribusi. Tak perlu banyak-banyak, tak perlu pusing-pusing, hanya dengan koin bahkan seorang anak SD yang menabungkan sebagian uang jajannya dalam sebuah celengan juga bisa ikut membantu temannya yang kurang beruntung. Hanya dengan memasukkan uang koinnya ke dalam celengan yang tersedia di beberapa sudut keramaian, mereka sudah berkontribusi mewujudkan mimpi sebagian jiwa di sana. Benar-benar semua kalangan, baik tua-muda, besar-kecil, hingga yang hidup pas-pas-an pun dapat ikut merasakan indahnya membantu. Receh gak remeh!

Antara koin dan kesempatan, dibutuhkan sebuah alat yang bernama, celengan. Celengan ini kemudian ditaruh di tempat-tempat yang strategis, di tempat-tempat keramaian, di tempat-tempat berlangsungnya transaksi jual-beli seperti di kasir. Dengan bentuk celengan yang khas dan sebuah banner kecil, dilengkapi sedikit sosialisasi kepada teller, pengunjung sudah dapat menjadi donator dengan  menyisihkan uang koinnya, dan memasukkannya sendiri ke dalam celengan tersebut. Dan setiap akhir bulan, atau setiap ada alporan bahwa celengan sudah penuh, maka para volunteer CAC (Coin a Chance!) akan mengambil celengan tersebut. Celengan-celengan yang sudah terkumpul tadi, pada satu hari di setiap bulannya akan sama-sama dihitung oleh para volunteer, atau biasa disebut dengan Coin Collecting Day (CCD). Koin-koin yang telah terhitung tadi selanjutnya ditukarkan dengan uang kertas agar tidak repot (bener kan, koin hanya perantara saja). Dalam enam bulan sampai satu tahun sekali, uang yang terkumpul dijadikan satu, lalu disalurkan oleh para volunteer ke sekolah-sekolah tempat adik asuh menimba ilmu, atau biasa disebut dengan Coin Dropping. Tak hanya dari koin, CAC juga membuka bagi siapa saja, baik individu ataupun perusahaan, para donatur yang ingin menyisihkan hartanya untuk adik-adik asuh. Adik asuh? Siapa itu?

Adik asuh merupakan anak-anak yang berprestasi namun kurang beruntung karena terhimpit permasalahan ekonomi hingga kesulitan untuk melanjutkan sekolah. Berprestasi di sini tidak melulu harus pintar. Anak yang berprestasi di sini ialah anak yang gigih dan memiliki kesungguhan untuk mau belajar guna mewujudkan mimpinya. Atau disingkat: anak yang bersungguh-sungguh. Bersungguh-sungguh juga tidak hanya dalam akademik, tapi juga non-akademik. Hobi yang mengantarkan mereka meraih juara. Tentu adik asuh perlu diseleksi. Bisa diambil dari info teman-teman, warga sekitar, atau datang langsung ke sekolah-sekolah. Seleksinya tidak rumit, asalkan mereka kurang mampu dan mau belajar, sudah bisa menjadi adik asuh CAC.

Setiap adik asuh memiliki satu kakak pendamping. Tugas kakak pendamping itu ada empat: Sebagai motivator, sebagai penghubung, sebagai contoh dan sebagai kado. Sebagai penghubung maksudnya antara anak dan orang tua, antara orang tua dan komunitas, dan antara komunitas dengan adik asuhnya. Sebagai kado maksudnya agar adik asuh merasa bahwa kakak pendampingnya merupakan kado untuknya. Keempat hal yang tidak mudah tentunya. Tapi seperti itu lah memang tugas kakak pendamping, setiap volunteer pasti memiliki tugasnya masing-masing.

Lalu apa saja kegiatan CAC? Apa hanya naruh celengan-ngitung koin-kasih ke sekolah-taruh celengan lagi- begitu seterusnya? Big no! Banyak event seru yang pada intinya ditujukan untuk adik asuh. Berikut ini event-event nya:

Internal
1.       Coin Collecting Day (CCD): Acara ngitung koin bareng di tempat-tempat yang berbeda (setiap bulan) 
2.       Coin dropping: Menyalurkan hasil dari CCD ke sekolahan adik asuh (1-2 kali setahun) 
3.       Voluntary Building: Penyegaran dan pembekalan para volunteer untuk meluruskan tujuan (1 tahun sekali) 
4.      Open Recruitment: Call up siapapun yang ingin jadi volunteer (1-2 tahun sekali)

Eksternal
1.       Penggalangan koin: gabung dengan komunitas lain membuat acara, mengumpulkan koin 
2.       Booth CAC: Buat stand di acara forum komunitas untuk mengenalkan CAC 
3.       Mengikuti undangan acara komunitas lain

Adik Asuh
1.       Piknik koin: Jalan-jalan ke tempat yang edukatif (1-2 kali setahun) 
2.       Kelas mimpi: Mengajak adik asuh mengenali mimpi mereka (1-2 kali setahun) 
3.       Kelas karya: Mengajak adik asuh berkarya (1-2 kali setahun) 
4.       CAC goes to school: Mengenalkan CAC ke sekolah-sekolah (1-2 kali setahun) 
5.       CAC Anniversary: Perayaan ulang tahun CAC bareng adik asuh (1 tahun sekali)

Lumayan banyak kan acara yang dibuat para volunteer CAC? Ohya, volunteer ya, bukan anggota. Karena keduanya berbeda. Di CAC, setiap orang yang menjadi volunteer tidak memiliki ikatan sebagai anggota. Artinya, tidak ada suatu hal administratif yang mengikat di sana, kecuali mengikat secara perasaan ataupun tanggung jawab. Di CAC juga tidak ada ada satu ketua yang pasti, yang ada hanya koordinator yang selalu berganti dan beberapa penasihat atau “sesepuh” yang telah punya banyak pengalaman lebih dulu di CAC. Jadi, komunitas CAC tidak pernah memaksa menguras waktumu, yang ada hanya waktumu yang akan tersita oleh kebahagiaanmu. Karena memang pada dasarnya volunteering merupakan panggilan hati, bukanlah sebuah paksaan.

Kini, saya tidak lagi menjadi volunteer sebagai kakak pendamping di CACjogja. Sejak lulus dan pindah kerja ke Jakarta, persis tidak ada lagi tatap muka dengan Dek Alif. Komunikasi hanya sebatas melalui SMS dan telfon. Sekedar bertanya kabar, sekedar bertanya kegiatan. Beberapa kali datang ke Jogja setelahnya, juga tidak sempat ke rumahnya. Oh, salah, juga tidak menyempatkan waktu datang ke rumah Dek Alif. Sempat sekali ikut CCD setelah pindah ke Jakarta, itu pun hanya sebentar. Terakhir kali pamit dengan Dek Alif ialah pada saat acara pengumuman kelulusannya. Persis H-2 sebelum keberangkatan saya ke Jakarta. Dek Alif dengan baju khas Jogjakartanya pada saat itu tampil ke atas panggung sebagai salah satu peraih Nilai tertinggi. Pada saat itu saya benar-benar terharu, tak terasa saya sekat air di pelipis mata. Malu kalau sampai ketahuan menangis, karena Ibunya saja tidak nangis. Dek Alif didampingi Ibunya di atas panggung, disalami oleh kepala sekolah. Saya sibuk mengabadikan lewat kamera bersama Om Nono dan Mbak Yanti yang juga hadir pada hari itu. Selain naik panggung karena nilai, yang kerennya, Dek Alif juga naik ke panggung buat tampil bersama Band-nya. Keren! Dek Alif dan gitarnya tampil di atas panggung dengan gayanya yang khas, malu-malu tapi seru. Benar-benar bahagia hari itu. Di penghujung acara, saya berpamitan kepada Dek Alif dan Orangtuanya, sambil foto bersama. Tak ada pesan yang ku sampaikan, hanya ucapan standar, “Belajar yang rajin ya Lif! Bikin bangga orangutamu!”. Ohya, di hari itu saya juga pamit kepada Om Nono dan Mba Yanti, menitipkan salam kepada teman-teman volunteer CAC yang lain. Saya tidak sempat berpamitan langsung. Panggilan kerja saat itu benar-benar mepet. Tapi tak apa, memori akan Dek Alif dan CAC gak akan pernah kelupa, kok, yakin.

Tak beberapa lama di Jakarta, saya pindah kerja dan saat ini menetap di Sumatera Utara. Sempat mencari info mengenai CAC di Medan, tapi nihil. Ah, kangen berkomunitas seperti di CAC. Bertemu teman-teman baru, belajar banyak dari mereka, belajar dari adik asuh, benar-benar membahagiakan. Sebenarnya sejak awal bergabung dengan komunitas ini, saya berhayal dan bermimpi kalau suatu saat, CAC bukan lagi menjadi komunitas, lantaran menjadi budaya. Budaya yang di support oleh pemerintah daerah (bukan dijalankan oleh pemerintah). Budaya apa? Ya Budaya Koin. Seperti muncul mindset di setiap kalangan masyarakat di Indonesia kalau ketemu uang koin, ya ingat CAC. Setiap sudut kota, restoran, tempat perbelanjaan, di setiap tempat yang menyediakan transaksi jual-beli, bahkan di taman-taman kota, ada celengan! Bentuk celengan nanti beragam sesuai dimana ditempatkan. Ada celengan seperti biasa, ada juga celengan berbentuk unik seperti sekolahan, celengan berbentuk balon udara, bahkan celengan bulat besar yang di tempatkan di taman kota dan masih banyak lagi bentuk celengan unik dari designer arsitektur ternama yang juga ikut ambil bagian di CAC. Semakin banyak celengan di tempatkan, maka mindset “ingat koin, ingat CAC” akan semakin terbentuk. Trus, kalau sudah banyak celengan, gimana? Nantinya akan ada truk pengumpul koin (semacam truk sampah). Setiap minggu ia berkeliling kota, menghampiri titik-titik celengan (titik koin). Selain truk koin, tiap kota akan ada juga rumah koin, tempat pengumpulan koin apabila tidak jumpa truk koin. Selain kedua itu, para volunteer juga tetap memantau setiap titik koin yang bisa diakses melalui aplikasi handphone, titik koin mana yang belum di ambil. Setelah pengumpulan koin berjalan mulus, selanjutnya konversi koin. Karena jumlahnya yang cukup banyak, koin tidak lagi dihitung, tapi sudah di setor langsung di bank, baik dari truk koin, rumah koin, atau para volunteer. Di sini diharapkan kerjasama bagi setiap bank, untuk memudahkan CAC dalam menyetor koin dan menyediakan rekening khusus CAC. Dari bank, tugas para volunteer CAC untuk menyetorkan dan meng-update nomor-nomor rekening sekolah para dik asuh yang dituju, sehingga setiap 6 bulan, bank bisa langsung mentransfer. Kalau sudah besar begitu, adik asuh akan semakin banyak, sehingga dibutuhkan pula volunteer yang banyak untuk mengkoordinir event-event penunjang untuk adik asuh CAC. Tapi saya rasa, setiap kota pasti ada orang-orang yang mau menyisihkan waktunya untuk mewujudkan kebahagiaan. Peran pemerintah daerah ialah dengan men-support celengan, truk koin serta rumah koin. Penanggung-jawabnya tetap berada di bawah departemen sosial daerah, tapi yang menjalankan tetap para volunteer. Memang kejujuran jadi modal utama, tapi saya yakin bila hal ini sudah membudaya, pekerjaan mulia ini tidak akan dinodai, bahkan untuk sekedar terfikirkan sekalipun. Yah, memang ini hanya angan-angan yang tentu masih banyak penyempurnaan, tapi apa salahnya berangan-angan akan hal baik, kan?

Mungkin demikian point-of-view saya tentang komunitas Coin a Chance. Terimakasih teman-teman CACjogja udah ngasih pembelajaran dan kesempatan jadi kakak pendamping di kala itu. Mohon maaf kalau ada salah, maaf cuman bisa ditulis dan baru sekarang :)

Dan buat kamu, pelajar atau mahasiswa atau wirausaha atau siapapun anda, khususnya di Jogjakarta, Semarang, Jakarta dan daerah lain yang ada CAC-nya, ayo gabung komunitas Coin a Chance! Selain banyak manfaat, mana tahu bisa ketemu gebetannya! Receh gak remeh, mari berbagi! :)

Coin Collecting Day


Coin Dropping
Voluntary Building
CAC Goes to School
Kelas Mimpi
Kelas Karya
 
Piknik Koin


CAC Anniversary

Salam Koin!


 
Design by Muhammad Dimas Rahman Affandi | Bloggerized by campredodellaconcetta - samid namhar - @midsamid | Lampung-Jogjakarta-Indonesia